Siddhi Medan

@SiddhiMedan

SiddhiMedan@yahoo.com

Siddhi Medan

Rabu

Siddhiers Meraih Peserta Terbaik I dalam Pelatihan Dharmaduta Muda

Wisuda Pelatihan Dharmaduta Muda Angkatan II - 2014

Pelatihan Dharmaduta Muda (PDDM) angkatan II 2014 sukses digelar di Vihara Dharma Cakra Buddhist Centre (DCBC), Komplek Cilincing Jalan Yos Sudarso Lorong 14-B Medan, selama tiga bulan mulai 7 September 2014 hingga 7 Desember 2014.
Dan setelah melewati praktek lapangan dan ujian, peserta akhirnya resmi dikukuhkan sebagai Dharmaduta Muda dan diwisuda dengan mendapatkan sertifikasi bergelar DMd (Dharmaduta Muda) pada tanggal 21 Desember di Hotel Emerald Garden, Medan.

6 Peserta Terbaik (Tengah : Siddhiers, Hendra Awie sebagai Terbaik I)
28 orang lulus dari total 32 peserta pelatihan dharmaduta muda dan berhasil diwisuda yang diberi gelar DMd pada hari itu. Dan momen yang ditunggu-tunggu akhirnya diumumkan : 6 Peserta Terbaik dan 10 Peserta Terajin selama pelatihan (teori & praktek) dan ujian yang telah dilewati oleh seluruh wisudawan/wisudawati.

3 Wisudawan DMd dari Siddhi (Kanan : Surya Minata Lie, Tengah : Hendra Awie, Kiri : Suwandi)
Siddhiers (Anggota Siddhi) sendiri ada 3 orang yang mengikuti pelatihan dharmaduta muda ini, yang mana 2 Siddhiers masing-masing meraih Peserta Terbaik I (Hendra Awie) dan Terbaik VI (Surya Minata Lie), serta 1 Siddhiers lainnya masuk kategori 10 Peserta Terajin (Suwandi).

Salah satu Siddhiers (Kurniady Halim) yang mendapatkan penghargaan DMd (Hons) dari Y.M Bhante Pannasami Thera
Disamping itu, terdapat Siddhiers lainnya (Kurniady Halim, Surya Robin dan Erly) yang merupakan bagian dari team panitia pelatihan sekaligus praktisi dharmaduta juga turut mendapatkan penghargaan gelar DMd (Hons) dari Y.M. Bhante Pannasami Thera sebagai wujud apresiasi terhadap wujud sumbangsih terhadap kepanitiaan pelatihan dharmaduta.

Pada kesempatan tersebut, tim Medkom Siddhi Medan sempat meliput Siddhiers yang menjadi Peserta Terbaik, berikut hasil petikan wawancaranya :


Profil Siddhiers Peserta Terbaik I
Nama : Upa. Santananda Hendra Awie, S.Kom, DMd
Usia : 26 tahun
Profesi : Karyawan Swasta

Profil Siddhiers Peserta Terbaik VI
Nama : Upa. Surya Minata Lie, DMd
Usia : 36 tahun
Profesi : Wiraswasta


1. Apa yang memotivasi Anda untuk menjadi seorang Dhammaduta ?

Hendra Awie :
Saya merasa masih banyak pelajaran agama buddha yang belum saya dapatkan, saya pilih mendapatkan pelajaran yang lebih lagi melalui pelatihan dharmaduta muda.

Surya Minata Lie :
Pada saat saya berusia 20-an, saya memiliki kesan yang mendalam saat mendengarkan dharma di sebuah vihara. Penceramahnya memberikan sharing dharma dengan sangat menginspirasi, dengan gaya bicara yang sederhana tapi memiliki makna yang dalam, dan dengan selingan humor. sehingga pendengar merasa bahagia, dan saya juga merasakan bahagia. saya berpikir seandainya saya bisa seperti dia, mampu menginspirasi orang untuk melakukan kebaikan hanya dengan ucapan, mampu membuat pendengar tertawa, bahagia sehingga dharma itu akan mudah diterima, membuat sesederhana mungkin Dharma yang dalam tapi tidak kehilangan makna yang dalam. Pada saat itu saya berjanji saya akan seperti beliau. Tapi waktu itu saya adalah seorang yang pemalu, pendiam, mudah grogi, apalagi disuruh berbicara di depan orang banyak, pasti gemetaran. apakah bisa???


2. Apa rencana ataupun resolusi Anda setelah diwisuda menjadi Dharmaduta Muda ? 

Hendra Awie :
Saya ingin terus berkarya dan mendapat kesempatan yang banyak untuk berceramah di vihara/cetiya sehingga keterampilan berceramah dan pengetahuan tentang buddha dharma semakin berkembang dan praktik semakin nyata terlihat.

Surya Minata Lie : 
Gelar DMd saya ini bukanlah akhir dari suatu perjalanan, melainkan awal dari suatu perjuangan. Berjuang untuk memajukan Buddha Dharma, berjuang untuk menggemakan Dharma yang indah pada awal, pertengahan dan akhir. Ada 2 tanggung jawab yang akan saya pikul. Tanggung jawab terhadap diri saya sendiri dan Tanggung jawab terhadap kebahagiaan semua makhluk.
Tanggung jawab terhadap diri saya sendiri: Apa yang saya ucapkan itulah yang saya praktekkan, apa yang saya praktekkan itulah yang saya ucapkan. Tidak ada kerancuan antara kata-kata dan tindakan. Kalau saya berani mengucapkan cinta kasih terhadap semua makhluk maka mulai detik ini saya harus bersungguh-sungguh mempraktekkan cinta kasih terhadap semua makhluk.
Tanggung jawab terhadap kebahagiaan semua makhluk : apa yang saya lakukan baik ucapan maupun tindakan tidak merugikan makhluk lainnya dan alangkah baiknya bisa membahagiakan makhluk lainnya. Tentu saja tanggung jawab ini tidak bisa saya pikul sendiri, kita bagi bersama-sama, kita pikul bersama.


3. Apa tips dari Anda untuk para calon Dharmaduta Muda ?

Hendra Awie :
Semua hal adalah bisa, rasa grogi, takut, merasa kurang pengetahuan, gagap, dsb.. Semua itu terjadi hanya karena kita belum melakukan. Jika sudah melakukan pasti semua menjadi rutinitas. 
Namun jika sudah dilakukan masih kurang maksimal, ya lakukan lagi praktek berceramah. 
Jika masih kurang. lakukan lagi.. lagi.. dan lagi... Anak ayam saja bisa terbang kalo dia latihan terus, masa sih manusia tidak bisa berceramah?

Surya Minata Lie :
Jangan takut untuk bermimpi menjadi seorang Dharmaduta.
Jangan takut untuk memulai sebuah sharing Dharma.
Selain banyak belajar dan membaca buku Dharma, Anda hanya perlu latih, latih dan latih.


4. Apa yang paling berkesan selama mengikuti Pelatihan Dharmaduta Muda Angkatan 2 oleh DCBC Medan ini?

Hendra Awie :
Semua rekan di kelas PDDM 2 adalah unik, berasal dari watak, suku, adat, budaya, profesi, usia, kematangan bersikap yang berbeda-beda namun kita mendapat satu informasi dan ajaran yang sama. Saya banyak merenung, mempelajari, meniru, dan menganalisis sikap masing-masing peserta termasuk saya sendiri dan hasilnya menakjubkan bahwa saya belajar sangat banyak tentang hal berteman dengan manusia yang sangat kompleks hanya dalam waktu 3 bulan. Saya pikir apa yang saya pelajari cukup lah untuk menjadi dasar pengenalan sesama kami di momen selanjutnya.

Surya Minata Lie :
Keakraban dalam sebuah persahabatan walaupun kami (peserta/pelatih) berbeda aliran (Theravada/Mahayana/Vajrayana).


5. Apa pesan dari Anda untuk Siddhiers lainnya terkait Buddha Dharma ? 

Hendra Awie :
Saya pikir untuk senior-senior di Siddhi, bukan kapasitas saya untuk memberi saran. Saya harusnya meminta banyak nasehat dari senior. Yang pasti yang saya rasakan pelatihan dharmaduta ini sangat bermanfaat bagi saya pribadi maupun peserta yang lain. Jika senior-senior di Siddhi suatu hari ikut pelatihan serupa ataupun yang sudah terlebih dahulu mendapat pelatihan serupa, maka artinya kita sama-sama telah melalui pengalaman yang sama dan itu sangat menyenangkan bukan?

Surya Minata LIe :
Mari kita bersama-sama, bahu-membahu memajukan dan mengembangkan Buddha Dharma tidak melalui lisan saja, tapi juga melalui tulisan, misalnya : sosial media seperti facebook, website, dsb.
Dan jangan lupa luangkan waktu setiap hari untuk meditasi sejenak...

(Sumber : Suwandi Cang)

Minggu

Liputan Khusus SIDDHI Medan bersama Ir. Sutopo (Ketua MBI Medan periode 2014-2017)

Ir. Sutopo (Ketua MBI kota Medan, periode 2014 s/d 2017)
Pria bertubuh kecil dan berambut nyaris seluruhnya berwarna putih ini, dikenal sebagai sosok yang bersemangat terutama bila diajak berbicara tentang masalah pluralisme beragama dan perkembangan Buddhisme di Kota Medan.

Laki-laki itu adalah Ir. Sutopo, atau lebih karib disapa dengan Pak Topo. Ia merupakan sosok yang unik. Perjalanan hidupnya penuh warna.  Beliau memiliki seabreg pengalaman. Pernah menjadi teknisi peralatan elektronik, lalu menjadi dosen, kemudian pebisnis, ia juga  meminati dunia fotografi, lalu memelajari spiritual. Hal terakhir ini pulalah yang menuntun pria kelahiran Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat, lima puluh empat tahun yang lalu,  ini untuk kemudian jatuh cinta pada agama Buddha.
 
Ir. Sutopo dikenal sebagai aktivis pluralis antar umat beragama di Kota Medan sehingga ia kemudian terpilih sebagai Wakil Ketua I - Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Medan, dan juga saat ini terpilih sebagai Ketua Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) Kota Medan Periode 2014 s/d 2017. Ia hidup bahagia bersama keluarganya. Puteri sulungnya, yang berprofesi sebagai instruktur balet bermukim di Singapura, sedangkan putera keduanya juga telah berkarir di negeri sakura, Jepang. Saat ini, bersama isteri tercinta – yang juga aktivis Buddhis, ia tinggal bersama puteri bungsunya yang menggeluti profesi sebagai desainer gambar.
 
Ir. Sutopo bersama Team Siddhi Medan
 
Dalam suasana karib, Ir. Sutopo menerima dan menjawab pertanyaan dari Tim Siddhi Medan. Berikut petikan wawancaranya.  
 
Sebagai tokoh penggiat kehidupan pluralis di Kota Medan, bagaimana sejauh ini pengamatan Bapak terhadap fenomena kehidupan antar umat beragama di Kota Medan secara khusus dan Indonesia secara umum?

Secara umum, berdasarkan pengalaman yang saya alami selama menjadi penggiat kehidupan pluralis melalui wadah Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dimana saya menjabat sebagai Wakil Ketua-I, kehidupan antar umat beragama di Kota Medan sudah berjalan cukup baik. Meskipun kita hidup di tengah kemajemukan, tetapi untuk hal toleransi antar umat beragama, tidak pernah mengalami permasalahan yang sampai menimbulkan keresahan. Tentu saja, kita berharap kondisi seperti ini akan tetap terpelihara.

Dalam pandangan saya, Kota Medan ini merupakan miniatur dari kemajemukan yang terdapat di NKRI, termasuk dalam hal keyakinan beragama. Kita mengetahui, bahwa masyarakat Kota Medan bersifat heterogen, baik dalam hal suku, ras, golongan maupun agama. Namun dari kondisi ini, tidak ada satu kelompok yang mendominasi. Semuanya saling menghormati, bertoleransi dan menghargai perbedaan yang ada.

Dalam catatan saya, sebagai pengurus FKUB, Kota Medan telah berulangkali memperoleh penghargaan atas prestasinya sebagai kota yang menjunjung tinggi semangat bertoleransi. Bahkan FKUB dari sejumlah kota dan provinsi lain telah pula sering melakukan semacam studi banding ke kota Medan, untuk melihat dan bertukar pikiran tentang kehidupan nyata akan praktik toleransi di Kota Medan. Kita patut bangga namun tetap waspada. Karena dalam pandangan saya, kerukunan merupakan kondisi yang dinamis. Jika kita lalai merawatnya, ibarat asset, maka ia akan aus dan menimbulkan masalah. Untuk itu, jangan pernah bosan untuk terus menggaungkan pentingnya praktik hidup bertoleransi dalam kehidupan yang penuh kemajemukan.  Dan ini juga merupakan salah satu tugas kita, sebagai umat Buddha.


Nah, berbicara tentang umat Buddha, menurut Bapak, apa yang menjadi kendala utama untuk saat ini?

Pertama, mungkin saya tidak berusaha melihat kendala, tetapi saya berusaha melihat perkembangan yang telah ada selama ini. Secara umum, umat Buddha Kota Medan sudah makin kreatif, khususnya dalam hal mengekspresikan dirinya sebagai seorang Buddhis. Kita juga melihat seminar-seminar bertemakan Buddhis telah marak. Organisasi-organisasi bercirikan Buddhis juga bermunculan di mana-mana. Praktik penghayatan ajaran Buddha juga makin ramai. Semuanya membanggakan.

Namun dibalik kemajuan tersebut, tetap ada hal-hal yang perlu dibenahi dan menuntut perhatian dari kita. Salah satunya adalah kita masih kekurangan sumber daya manusia untuk pelayanan dalam bidang bimbingan Dharma kepada para umat awam. Kita tahu, jumlah anggota sangha kita sangat terbatas. Para pandita yang seharusnya dapat membantu para bhikkhu sangha juga sama, jumlahnya masih belum memadai.  Sekarang kita punya Duta Dharma yang bertugas memberi pelayanan Dharma, tapi anda juga tahu, tak semua orang bisa menjadi Duta Dharma. Artinya, kita punya masalah dalam hal sumber daya manusia.

Baru-baru ini, salah satu wihara-Dharma Cakra Buddhist Centre, menyelenggarakan kegiatan pelatihan Dharma Duta. Sudah dua tahun berturut-turut kegiatan yang sama dilakukan. Saya sangat mengapresiasi inisiatif ini. Dengan cara-cara demikianlah solusi atas minimnya sumber daya manusia sebagai perpanjangan tangan bhikkhu sangha mulai dilakukan. Kita harapkan dari kegiatan ini akan muncul Dharma Duta-Dharma Duta baru yang bisa berkomitmen dalam membantu pelayanan bimbingan Dharma kepada umat sehingga umat awam dapat lebih memahami Buddha Dharma.


Sebagai Ketua MBI Kota Medan terpilih untuk Periode 2014 s/d 2017, apakah Bapak telah menyusun strategi khusus, yang akan dilaksanakan dalam kepengurusan Bapak?

Untuk strategi khusus, saya pikir tidak ada. Hanya saja, saya mencoba mem-fokuskan diri pada pembenahan internal organisasi terlebih dahulu, terutama saya akan mencoba melakukan konsolidasi, serta menyusun distribusi tugas per bidang. Tujuannya agar semua bidang yang ada, dapat mandiri dalam menyusun program kerjanya masing-masing. Selain itu, pembenahan administrasi, khususnya pendataan wihara serta hal-hal lain yang berhubungan dengan kebutuhan umat, juga akan dititikberatkan.

Untuk fokus eksternal, saya ingin agar MBI dapat menjalin kerjasama yang lebih erat dengan majelis-majelis lain. Saya pengen ada semacam forum agar sesama pengurus majelis dapat sharing idea untuk melakukan hal yang terbaik bagi perkembangan agama Buddha di Kota Medan.  Saya juga telah memikirkan agar ketika periode kepengurusan ini berakhir, kita harus menyiapkan kader agar semangat mengembangkan agama Buddha dapat makin langgeng.   Salah satu cara yang telah saya pikirkan, adalah perlunya membekali para pengurus dengan wawasan Buddha Dharma yang non sectarian dari para tokoh-tokoh Buddhis berwawasan Buddhayana dari pusat (Jakarta – RED).

Sebagai sosok yang telah banyak mengikuti dan terlibat dalam berbagai organisasi Buddhis, bisa diceritakan mengapa akhirnya bisa berlabuh di MBI?

Tentunya ini merupakan sebuah proses. Ada beberapa alasan yang membuat saya melabuhkan diri di MBI. Salah satunya, MBI merupakan organisasi yang bukan wadah menampung satu aliran tertentu dari agama Buddha. Sebaliknya, MBI justru wadah dari aliran-aliran (scholastic) dari ajaran Buddha itu sendiri, yaitu Theravada, Mahayana, serta Vajrayana. Ibaratnya MBI itu adalah rumah dari ketiga aliran ini. Ketiga aliran tersebut dipelihara dan dijaga, untuk saling harmonis dan didukung perkembangannya. Tidak ada yang dianggap terbaik atau juga terburuk. Semuanya adalah satu sumber, tetapi bukan dimaksudkan sebagai pencampuradukkan satu sama lain. Sebagaimana lirik yang terdapat dalam Mars Buddhayana, hasil gubahan Bhikkhu Saddanyano Mahathera, ajaran Buddha itu pada prinsipnya seperti air laut yang satu rasa. Jadi apapun, Theravada, Mahayana ataupun Vajrayana, cita rasanya sama, yaitu Dharma Ajaran Buddha.

Selain itu MBI merupakan organisasi yang mendukung penuh pengkondisian agama Buddha yang betul-betul bercita rasa Indonesia. Kiblatnya mungkin seperti yang ada di Candi Borobudur, Jawa Tengah. Inilah yang menggugah saya untuk melabuhkan diri di MBI.
 

Bapak punya obsesi terpendam untuk MBI?  

MBI merupakan majelis agama Buddha tertua di Indonesia. Tahun depan, MBI akan genap berusia 60 tahun.  Secara usia, kita sudah cukup matang. Tetapi dalam hal pelayanan umat, kita harus tetap membenahi diri. Ke depan, kita harus lebih menyentuh ke akar rumput sehingga keberadaan serta manfaat MBI semakin dirasakan.  Demikian juga untuk pengembangan organisasi. Kita perlu menata lebih baik sistem administrasi kita. Beranjak dari pemikiran ini, saya bermimpi untuk membangun sebuah pusat pendokumentasian yang lengkap sehingga bisa mendukung akses pelayanan kita. Obsesi lain, adalah saya bermimpi agar umat Buddha aliran Theravada, Mahayana dan Vajrayana dapat saling berkembang secara simultan. Intinya kita tidak ingin mencampuradukkan, tetapi yang kita inginkan satu sama lain saling berkembang. Sehingga masyarakat menjadi lebih baik pemahamannya terhadap pluralism yang ada dalam internal agama Buddha itu sendiri.
 

Pesan-pesan apa saja yang ingin Bapak sampaikan kepada generasi muda buddhis Indonesia, khususnya generasi muda buddhis kota Medan?

Pesan untuk generasi muda buddhis dari Saya adalah kita harus berbuat sesuatu yang bermanfaat untuk orang banyak, bukan hanya untuk umat buddha saja, tapi untuk masyarakat republik Indonesia, sehingga kehadiran kita di masyarakat yang begitu pluralnya dapat berguna. Sekaligus menjadikan negara republik Indonesia sejajar dengan negara-negara lain, duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Marilah kita bergandengan tangan untuk kemajuan negara republik Indonesia tercinta kita ini.
 

(Edited: Rudiyanto Tanwijaya / Naskah asli: @SuwandiCang - 14102014)

Rabu

Sangha Dana Kathina Session 2014 berlangsung Sukses


Majelis Buddhayana Indonesia ( MBI ) sukses menyelenggarakan Sangha Dana Kathinakala 2014 yang merupakan program rutin tahunan MBI, kali ini Kathina Bersama diselenggarakan di di Regale Ballroom, Jalan H.Adam Malik No.66-68 Medan pada tanggal 02 November 2014 bersama dengan beberapa Badan Otonomnya seperti Wanita Buddhis Indonesia (WBI), Sarjana dan Profesional Buddhis Indonesia (SIDDHI), Sekber PMVBI / Pemuda Buddhayana. Perayaan yang dirayakan Umat Buddha sebagai bentuk bhakti kepada Sangha yang disebut juga Upacara Sangha-Dana. Sesuai dengan siaran pers yang disampaikan oleh Ketua Panitia Hasustan Kosim, acara ini akan diselenggarakan pada Minggu (02/11/2014), pukul 13.00 WIB  di Regale, Jl. H.Adam Malik No. 66-68 Medan.
Dijelaskan Ketua Panitia, Hasustan Kosim bahwa Perayaan Kathina merupakan perayaan masa berakhirnya musim hujan (Masa Vassa) di India Utara selama tiga bulan bagi para anggota Sangha. Selama itu para Bhikkhu tidak melakukan perjalanan untuk menghindari merusak atau menginjak tunas-tunas tanaman termasuk kemungkinan mengganggu kehidupan makhluk hidup yang lain. 
“Mereka hanya berdiam di Vihara dengan melaksanakan latihan diri dengan intensif, mematuhi peraturan kebhikkhuan atau Vinaya. Jadi masa kebhikkhuan justru dihitung dari  berapa Vassa yang sudah dijalani, bukan dari berapa lama ia menjadi Bhikkhu,” terang Hasustan Kosim.
Setelah masa Vassa berakhir, umat Buddha memasuki masa Kathina atau bulan Kathina. Pada masa tersebut, selama satu bulan dapat dipilih satu hari untuk menyelenggarakan upacara Kathina. Upacara ini  dapat digelar apabila di suatu Vihara terdapat paling sedikit 5 (lima) orang Bhikkhu yang menjalani masa vassa secara sempurna. Bila tidak terpenuhi, umat dapat mengadakan upacara “Sangha-dana di masa Kathina”. Dalam kesempatan tersebut, selain memberikan persembahan jubah Kathina, umat Buddha juga berdana kebutuhan pokok para Bhikkhu, perlengkapan vihara, dan berdana untuk perkembangan dan kemajuan agama Buddha sehingga hari Kathina sering juga dikenal dengan Hari Sangha. Hubungan harmonis antara Bhikkhu Sangha dan umat awam seperti yang tercermin dalam masa Kathina ini dihadiri sekitar 2.000 umat dari kota Medan dan sekitarnya.

Sekitar 2000 umat turut hadir dalam Kegiatan Kathina yang diselenggarakan oleh MBI Kota Medan

Sekitar 36 Anggota Sangha turut hadir dalam Sangha Dana Kathina Session 2014 (Majelis Buddhayana Indonesia)
Kathina menjadi saat yang tepat untuk memberikan dukungan umat kepada sangha. Dengan memberikan dukungan kepada sangha maka mereka bisa belajar, berlatih dan akhirnya mengajarkan Dhamma kepada umat. Disamping itu Kathina juga menjadi saat yang baik buat anggota sangha untuk merenungkan kembali tujuan mereka memasuki kehidupan suci ini.

Kata sambutan oleh Ketua MBI Sumut - Romo Ony Hindra Kusuma
Ony Hindra Kusuma selaku ketua Majelis Buddhayana Indonesia Sumut mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan mendukung acara ini sehingga acara ini dapat berjalan dengan sukses baik pihak sponsor, panitia maupun pendukung yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Bahwa umat kota Medan telah mengambil moment yang baik ini untuk bersama melaksanakan kebajikan di ladang yang subur pada saat yang tepat yaitu bulan suci Kathina mempersembahkan dana kepada Sangha secara tulus, bahagia sebelum, saat dan setelah berdana sehingga diharapakan kebajikan besar ini dapat membuahkan kamma baik serta melimpahkan berkah, kebahagiaan dan kedamaian bagi semua umat dan semua mahkluk. (Sumber press release : Suwandi Cang)

Berikut beberapa cuplikan kegiatan Sangha Dana Kathina Session 2014, Check this out!!

Pembacaan Doa : Sangha Dana Kathina Session 2014 

Sangha Dana Kathina Session 2014 (Majelis Buddhayana Indonesia) turut dihadiri oleh salah satu wakil rakyat, Bp.Brilian Moktar (Paling depan, sebelah kiri)

Momen pemberian dana kathina dalam Sangha Dana Kathina Session 2014

 Pemberian Dana Kathina dari Romo Ony Hindra Kusuma selaku ketua MBI Sumut kepada
YM. Bhante Khemmanando Thera (sebelah kanan)

Salah satu anggota Panitia Dokumentasi dari MBI sedang memberikan Dana Kathina
Pemberian gelang oleh YM.Bhante Pannasami Thera kepada salah satu umat (anak kecil)
dalam Sangha Dana Kathina Session 2014
Dharmatalk pada Sangha Dana Kathina Session 2014 (Majelis Buddhayana Indonesia) menghadirkan "The Miracle of Giving" oleh YM. Bhante Khemmanando Thera.

Senin

What is Kathina?

Event Kathina oleh MBI (Majelis Buddhayana Indonesia) kota Medan baru saja berlalu dan telah berlangsung dengan sukses. Walau begitu ada baiknya kita mengenal lebih dekat lagi apa sih Kathina itu. Nah, untuk itu baca langsung deh. :)



Kehidupan manusia tidak dapat lepas dari hubungan antar sesama, ia masih membutuhkan bantuan atau dukungan dan dorongan dari pihak lain. Demikian pula umat mempunyai hubungan yang sangat erat terhadap para Bhikkhu, salah satunya adalah menyokong kebutuhannya, (Sigalovada Sutta, Diggha nikaya III, 31).

Apakah kebutuhan para Bhikkhu itu? Mengenai hal ini adalah empat macam kebutuhan pokok, yaitu: Sandang, pakaian (jubah), makanan, tempat tinggal dan obat-obatan, itu adalah kebutuhan yang pokok. Oleh karena itu para umat Buddha menyokongnya dengan cara berdana, seperti halnya pada hari Kathina. Setelah masa Vassa (berdiam di satu tempat selama tiga bulan pada musim hujan) selesai, ada hari yang disebut: Pavarana (mengundang) tiga bulan setelah Vassa pada bulan purnama, para Bhikkhu mengakhiri Vassa dengan mengadakan Pavarana bersama-sama, yaitu: saling mengundang Bhikkhu yang satu dengan yang lainnya untuk memberikan nasehat atau memberi maaf, barangkali ada kesalahan. Kemudian ada hari yang disebut: Berdana Kathina di dalam Ajaran Sang Buddha.

Ada beberapa pengertian tentang yang disebut berdana Kathina dengan sempurna, yaitu:
1. Di Vihara itu minimal ada 5 orang Bhikkhu yang berVassa.

2. Kelima orang Bhikkhu itu harus memasuki masa Vassa yang sama.

3. Harus menyelesaikan masa Vassa pada waktu yang sama dan sempurna.

4. Kathina itu harus diselenggarakan di Uposathagara.

5. Pada upacara itu, kelima orang Bhikkhu yang berVassa di vihara itu menerima persembahan Kathina dusam (kain pembuat jubah Kathina) yang dipersembahkan oleh umat.

6. Kelima orang Bhikkhu itu kemudian serentak membuat sangha kamma, memutuskan siapakah Bhikkhu yang berhak menerima jubah Kathina pada waktu itu.

Keputusan itu ditempuh dengan suatu cara prosedur yang demokratis. Seorang atau beberapa orang Bhikkhu mengajukan usul, bhikkhu yang lain memperkuat dan yang lain menyetujui. Dan akhirnya jubah Kathina itu diserahkan kepada Bhikkhu yang berhak untuk menerima. Bahan jubah itu harus dipotong, dijahit, dicelup pada hari itu juga dan sebelum fajar menyingsing, jubah harus sudah siap dan diserahkan kepada bhikkhu yang berhak. Inilah yang disebut Jubah Kathina, inilah Kathina puja yang sesungguhnya.

Demikianlah yang dijelaskan oleh Sang Buddha, betapa besar manfaat bagi seseorang yang bisa mempersembahkan Kathina dana, sebab Kathina dana tak dapat dipersembahkan setiap saat.

Kathina dana hanya bisa dipersembahkan di suatu vihara dan hanya berhak menyelenggarakan Kathina satu kali pada waktu tahun itu.

Pada upacara Kathina, selain mempersembahkan jubah kepada Sangha, para umat nampaknya juga mempersembahkan empat kebutuhan pokok bagi para Bhikkhu. Banyak umat yang tidak sempat mempersiapkan empat kebutuhan pokok ini, maka umat buddha menggantikan dengan wujud uang. Kita sebagai umat buddha tentunya perlu sekali mengerti dengan benar, bagaimana cara berdana yang baik itu. Dana yang diberikan seseorang akan menjadi dana yang bermanfaat, kalau berdana dengan baik dan benar.

Ada tiga hal yang harus diperhatikan, yaitu:
1. Cetana-sampada

Kalau saudara Ingin berdana, hendaknya saudara mempunyai pikiran yang ikhlas, senang dan bahagia. Mengenai hal ini adalah:
Sebelum berdana merasa senang dan bahagia.
Pada waktu berdana merasa senang dan bahagia.
Sesudah berdana merasa senang dan bahagia.

Dari ketiga hal ini, yang paling penting adalah yang ketiga, Walaupun yang kesatu dan kedua juga penting.
Misalnya : sebelum berdana senang, waktu memberikan ikhlas, sesudahnya menyesal. Ini sangat disayangkan, karena mengurangi nilai kebaikannya. Didalam Kitab Suci dijelaskan, orang yang mempunyai kebiasaan seperti ini, waktu muda ia akan hidup makmur, kaya raya dan sejahtera. Tapi itu semua hanya bertahan separuh umur. Jaya hanya kira-kira sampai lima puluhan tahun, sesudah itu mengalami kemerosotan dan akhirnya menjadi miskin. Yang paling baik dan jasanya dapat bertahan lama adalah merasa bahagia, ikhlas, gembira dan bahagia, baik sebelum, pada saat maupun sesudah berdana.

2. Vatthu-sampada

Barang yang didanakan sebaiknya barang-barang yang bersih, yang didapat dari tidak melanggar Negara dan Agama dan dana ini haruslah baik, yang disebut Sami Dana. Janganlah berdana yang tak bisa dipergunakan lagi baik oleh diri sendiri maupun orang lain.

Dana untuk para Bhikkhu, orang tua, guru, disebut: Puja Dana (dana sebagai persembahan perhormatan). Tidak sama dengan berdana untuk orang miskin, gelandangan, pegawai saudara, ini disebut: Anugaha Dana (berdana sebagai hadiah, sebagai anugerah).

3. Puggala-sampada

Berdana kepada siapa? Sang Buddha pernah dituduh seseorang: “Apakah benar Sang Bhagava mengajarkan bahwa berdana kepada orang tidak punya moral itu tidak ada gunanya?” Sang Buddha kemudian menjawab:“Aku tidak pernah mengatakan bahwa berdana tidak ada gunanya, meskipun orang membuang sisa-sisa dari satu panci atau mangkuk kedalam sebuah tambak atau telaga dan mengharap agar para makhluk hidup di dalamnya dapat memperoleh makanan, perbuatan inipun merupakan sumber dari kebaikan, apalagi dana yang diberikan kepada sesama manusia”.Inilah yang Tathagatha ajarkan, (Anguttaranikaya III, 57). Sang Buddha menyatakan: “Berdana kepada Sangha sangat besar jasanya”.

Di dalam Velumakkha-Sutta disebutkan: “Berdana kepada orang yang bermoral lebih besar jasanya daripada berdana kepada orang yang tidak punya moral. Kepada Sotapanna lebih besar dari orang yang bermoral. Kepada seorang Sakadagami lebih besar dari 100 Sotapanna. Kepada seorang Anagami lebih besar dari 100 Sakadagami. Kepada seorang Arahat lebih besar dari 100 Anagami. Kepada seorang Paccekka Buddha lebih besar dari 100 Arahat. Kepada seorang Sammasam-buddha lebih besar dari 100 Paccekka Buddha. Berdana kepada Sangha lebih besar jasanya dari berdana kepada seorang Samma-sambuddha. Dana kepada Sangha tak pernah sia-sia, sekalipun sampai seratus ribu kalpa lamanya”.

Berdana kepada sangha itu lebih besar manfaatnya, karena tidak mengenal favoritisme. Berbeda dengan berdana hanya untuk seorang bhikkhu, yang disebut: Puggala Dana (dana untuk individu). Sang Buddha juga menguraikan, masih ada yang lebih besar jasanya daripada berdana untuk Sangha, yaitu melaksanakan sila, sebagai orang awam menjalankan Pancasila lebih besar manfaatnya daripada Sangha Dana, yaitu meditasi sampai mencapai Jhana (tingkatan konsentrasi). Dan yang lebih besar lagi adalah meditasi Vipassana, karena meditasi Vipassana ini akan menumbuhkan Panna (kebijaksanaan). Dengan Panna inilah yang akan dapat membebaskan seseorang dari dukkha untuk selama-lamanya (mencapai kebebasan sempurna nibbana).

Sang Buddha pernah menyatakan, “Siapa yang suka berdana ia akan dicintai dan disukai”. Ini manfaat yang langsung dapat dipetik pada kehidupan sekarang ini.

Sedangkan manfaat yang dijelaskan dalam Nidhikhanda Sutta, Samyuta Nikaya I, 2: “Wajah cantik, suara merdu, kemolekkan dan kejelitaan, kekuasaan serta mempunyai banyak pengikut, semua itu dapat diperoleh dari pahala perbuatan baik, yaitu berdana”.

Ada kalanya, orang berdana hanya karena ingin dipuji dan dicintai, supada dapat terlahir dialam surga, supaya menjadi kaya dan mempunyai kekuasaan, maka orang itu hanya akan mendapatkan itu saja. Tetapi sesungguhnya ada tujuan yang tertinggi, yaitu untuk mengurangi keserakahan, kemelekatan, kekikiran, kebencian dan untuk dapat mencapai kebebasan (kesucian batin). Maka kalau cita-citanya tinggi seperti itu, tujuan yang tengah-tengah dan bawah pasti akan tercapai juga.

Orang yang tak suka berdana yang walaupun kecil atau sedikit, ia akan besar keserakahannya, ia akan mengumpulkan dan terus mengumpulkan, nama, kekayaan, pangkat dan pujian. Ia senang mengumpulkan, bahkan mengumpulkan problem, kesan yang tidak baik, pengalaman pahit, kemarahan, kejengkelan dan ketidaksenangan. Orang yang tidak suka berdana ia akan menderita, karena tidak suka melepas miliknya, ia akan semakin melekat, karena tidak bisa melepaskan segalanya. Padahal apa yang kita cintai, apa yang kita miliki toh akhirnya akan ditinggalkan, tidak ada sedikitpun yang dibawa ke alam sana, yang dibawa hanyalah kamma baik dan kamma buruknya. Makan tidak enak, tidur pun tak nyenyak dengan tidak melepas kesan yang buruk, problem yang berhubungan dengan sesama makhluk akan menumbuhkan kebencian dan dendam. Janganlah semua itu disimpan, dikumpulkan, tetapi buang lepaskan semuanya, maka kita akan merasa lega, tentram, damai dan bahagia.

Hidup ini sudah banyak macam persoalan alamiah, Sang Buddha mengatakan: “Hidup yang bagaimanapun bentuknya adalah dukkha, janganlah menambah persoalan ekstra, lepaskanlah semua itu”. Dan kita bisa mulai berlatih untuk melepas dengan meningkatkan kemurahan hati dan mengurangi kekikiran juga kemelekatan dengan berdana (memberi kepada mereka yang patut menerima). Dana bukan berarti hanya berupa materiil semata: uang, makanan dan barang. Tetapi bisa juga berupa moril: nasehat-nasehat, pertolongan, dorongan, perhatian dan pemberian maaf. Kalau orang yang tidak pernah berdana, maka suatu saat kalau jasa kebaikannya habis pasti ia akan menderita, seperti contoh: Orang punya kacang lima butir, tapi kacang itu hanya dinikmati dan dimakan semuanya. Maka kacang itu habis, akan tetapi kalau misalnya kacang itu disisihkan satu atau dua butir dan ditanam diladang yang baik dan subur, maka kelak jika kacang itu berbuah akan dapat ia nikmati. Seperti halnya orang yang berdana, itu bagaikan orang menanam bibit.

Orang berdana bagaikan menabung, yaitu menabung kamma baik yang akan bisa menolongnya dan yang akan menyelamatkannya.

Menurut Dhamma, memberi bukan berarti berkurang, namun memberi sesungguhnya adalah bertambah (bertambah kamma baiknya). Didalam Kitab Itivutaka, 18 Sang Buddha menjelaskan: “Seandainya semua makhluk mengetahui seperti Aku (Tathagatha) mengetahui tentang manfaat berdana, mereka tidak akan menikmati semua yang mereka miliki tanpa membaginya dengan makhluk lain (yang membutuhkan), juga tidak akan membiarkan noda kekikiran mengoda dan menetap didalam batinnya. Bahkan jika apa yang mereka miliki merupakan sedikit makanan terakhir yang dipunyai, mereka tidak akan menikmati tanpa membaginya (berdana), seandainya ada makhluk lain yang sangat membutuhkannya”.

Kita sebagai umat Buddha, mestinya harus mengerti manfaat yang paling besar dari berdana, yaitu: tidak hanya dipuji, terkenal, menjadi kaya dan terlahir di Alam Dewa. “Manfaat yang paling besar dari berdana adalah bebas dari kekotoran batin”. Kalau ada orang berdana (memberi bantuan) hanya ingin dipuji, maka itu adalah sangatlah rendah, apalagi bila keinginannya untuk dipuji itu tidak didapatkan, pasti kecewa dan menderita.

Menurut Dhamma, kalau seseorang ingin menjadi kaya, berjuanglah dengan sungguh-sungguh, kerja keras, rajin, tekun, ulet, hemat (tidak boros), jujur dan banyak berbuat baik. Cita-cita itu pasti akan tercapai, karena itu adalah hukumnya.

"Kekayaan tidak bisa didapat hanya dengan cara memohon, berdoa dan sembahyang, 
namun kekayaan bisa didapat kalau orang bekerja atau berkarya 
menurut hukum kebenaran."

Jumat

Liputan Khusus SIDDHI Medan bersama Hendra Lim (Momink)

Berikut liputan khusus Team Media Komunikasi (Medkom) SIDDHI Medan bersama Hendra Lim (alias Momink) saat bertemu dengan beliau di Vihara Dharma-Cakra Buddhist Centre yang sedang memberikan workshop Public Speaking untuk Dharmaduta, Medan pada beberapa waktu silam :
Hendra Lim (Momink)
Hendra Lim (Momink) bersama Team Medkom SIDDHI Medan
  1. Bagaimana pendapat pak Hendra Lim tentang Dharmaduta agama buddha di Indonesia pada umumnya?
    Saya melihat bahwa semakin banyak generasi muda yang bertekad untuk ikut mengabdi, belajar untuk menjadi seorang dharmaduta yang baik. Kita perlu menambah semakin banyak orang yang berbagi dharma sekaligus juga meregenerasi senior-senior kita. Mengapa? Karena zaman berubah. Sehingga cara-cara untuk menyampaikan dharma harus dilakukan secara kreatif, dan menarik. Kalau dalam bahasa saya, menarik dan efektif itu inspiratif dan menyenangkan. Materinya inspiratif dan penyampaiannya menyenangkan. Dan di berbagai daerah mulai muncul pelatihan-pelatihan yang berusaha untuk melahirkan atau menciptakan dharmaduta-dharmaduta, khususnya dharmaduta muda yang baru. Dan kota Medan salah satunya, kota dengan lusinan vihara dimana-mana yang tentunya membutuhkan semakin banyak dharmaduta dan juga pandita.
  2. Bagaimana pendapat pak Hendra Lim tentang Dharmaduta agama buddha, khususnya di kota Medan?
    Kalau di kota Medan, seperti yang kita ketahui ada Lembaga Pemberdayaan Pandita dan Upacarika (LPPU) yang mana romo Tony  selaku Ketua dan dibantu oleh teman-teman lainnya, mereka berupaya untuk mengirimkan para dharmaduta ke berbagai vihara. Dalam hal ini Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) propinsi Sumut dan MBI kota Medan menerapkan salah satu prinsip buddhayana yaitu Universal, dimana kalau vihara membutuhkan dharmaduta dan kalau kita bisa bantu, kita kirim dharmaduta kesana. Setahu saya, pelayanan ini hanya ada di kota Medan. Jakarta dulu ada tapi akhirnya berhenti. Jadi komitmen teman-teman di LPPU Medan dan MBI boleh kita bilang sangat besar untuk meneruskan tradisi ini. Ya tentu saja ada banyak kendala atau masalah, ya itu tantangan. Jadi itu uniknya kota Medan,  setiap hari minggu itu setiap vihara mengadakan ceramah dharma pada saat/waktu yang sama sehingga kita membutuhkan banyak dharmaduta dan sangat baik dikoordinir oleh Wiriyanto, meskipun terpontang-panting. Juga ada pelayanan ke penjara/rumah tahanan sehingga kita melihat agama buddha akan semakin baik, jika donatur, orang-orang yang mempunyai arus kas yang berlebihan mau mendorong kegiatan-kegiatan ini. Jadi bukan hanya kegiatan buddhis yang sifatnya perayaan , peringatan besar-besaran saja.
  3. Seperti yang kita ketahui, bapak telah 2 kali datang ke Dharma-Cakra Buddhist Centre (DCBC) Medan dalam rangka memberikan workshop Public Speaking kepada peserta pelatihan dharmaduta, bagaimana tanggapan bapak terhadap kegiatan ini?Oh ini sangat positif, saya sangat menunggu acara ini setiap tahun. Dan beruntunglah panitia masih percaya kepada saya dan Dr. Ponijan Liaw. Terima kasih juga kepada panitia yang telah berturut-turut mengundang kami. Sebelumnya MBI kota Medan juga pernah mengadakan di tahun 2011, lalu dilanjutkan oleh program DCBC atas inisiatif Y.M. Thera Pannasami, dan ini kali kedua. Dan pelaksanaan angkatan II ini kalau dari sisi peserta, saya senang dengan pesertanya yang tidak terlalu variatif dalam latar umur dan pendidikan, serta waktu untuk workshop saya lebih panjang dari tahun lalu. Jadi lebih terasa dan puas dengan hasil dicapai. Dan saya berharap ini diteruskan dalam artian pelatihan ini bisa sekali lagi menciptakan yang baru atau membuat kurikulum untuk mengembangkan yang sudah ada. Karena yang namanya menjadi seorang pembicara, dharmaduta, guru itu tidak pernah berhenti belajar. Ketika Anda berhenti belajar, anda berhenti berkembang, ketika anda berhenti berkembang maka anda berhenti menjadi manusia, itu dia yang penting.  Apalagi setelah selesai dilantik atas wewenang dari bhante Pannasami , teman-teman diberi gelar DMd, itu harus dipertanggungjawabkan, sikap, prilaku dan pengetahuannya di masyarakat sudah harus berbeda.
  4. Materi yang bapak berikan sungguh luar biasa bagi para peserta pelatihan dharmaduta muda di DCBC, apa harapan dan tips dari bapak untuk para peserta kedepannya?
    Jadi kita kan belajar teknik menyiapkan materi ceramah yang 7 poin itu, ya terapkan saja. Biasanya orang baru, mau belajar cepat, apakah ada jalan pintasnya? Jawabannya tidak ada. Dibalik setiap presentasi yang hebat dan luar biasa, disitu ada juga persiapan yang hebat dan
    luar biasa. Persiapan itu yang kita latih kemarin, yang kurang lebih selama lebih dari 3 jam itu kita berlatih menyiapkan materi, nah itu harapan saya diterapkan. Kalau Anda potong kompas/jalan, lalu merasa tidak berkembang, ya balik lagi ke metodenya.
  5. Kebetulan dari SIDDHI medan yang merupakan badan otonom dari MBI, ada beberapa Siddhiers (aktivis SIDDI) Medan yang ikut menjadi peserta maupun terlibat dalam panitia pelatihan dharmaduta muda DCBC ini, bagaimana pandangan bapak terhadap SIDDHI medan dan masukan apa saja untuk pengembangan SIDDHI Medan kedepannya?
    SIDDHI (Sarjana & Profesional Buddhis Indonesia) kota Medan merupakan salah satu organisasi yang saya sangat support,  dalam pengertian, kalau saya berkaca dengan pengembangan agama buddha di luar negri, khususnya malaysia dan singapore, itu ada suatu kelompok yang dinamakan Buddhist Fellowship Indonesia (BFI), BFI di jakarta sekarang sudah mulai ada. Isinya itu banyak teman-teman yang profesional. Mereka berkumpul dan mengembangkan dirinya, kompetensinya, melalui buddha dharma ataupun keterampilan dan pengetahuan yang kontemporer. Seperti yang kita ketahui,  SIDDHI menyelenggarakan pelatihan NLP for Leadership, dan juga pelatihan Jurnalistik, tapi kita harus tahu bahwa itu harus dibarengi dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat spiritual. Meskipun pada ujungnya peserta itu tidak akan banyak. Kita bicara kelas retret meditasi 7 hari, peserta yang ikut tidak akan ada 1000 orang, 10 orang saja sudah syukur. Tapi kita harus tetap ingat jati diri bahwa kita adalah organisasi spiritual kepemudaan, bukan organisasi kepemudaan yang spiritual. Jadi spiritualitas itu yang duluan. Sehingga SIDDHI itu bisa menyeimbangkan kegiatan yang spiritual maupun yang diluar spiritual. Jadi anggota SIDDHI medan, kalau pakai bahasa buddhisnya wise and compassion sehingga imbang. Wise saja tidak cukup, harus compassion. Compassion juga harus dibarengi dengan wise.


    Narasumber :
    Hendra Lim, M.Pd (alias Momink)- Speaker & Trainer di Pusat Pelatihan Agama Buddha Indonesia
    - Dosen di Binus University; dan
    - Ketua Lembaga PSDM di Majelis Buddhayana Indonesia Pusat

    Diliput oleh : Team Media Komunikasi SIDDHI Medan (19 Okt'2014)