![]() |
| Ir. Sutopo (Ketua MBI kota Medan, periode 2014 s/d 2017) |
Laki-laki itu adalah Ir. Sutopo,
atau lebih karib disapa dengan Pak Topo. Ia merupakan sosok yang unik.
Perjalanan hidupnya penuh warna. Beliau memiliki
seabreg pengalaman. Pernah menjadi teknisi peralatan elektronik, lalu menjadi dosen,
kemudian pebisnis, ia juga meminati
dunia fotografi, lalu memelajari spiritual. Hal terakhir ini pulalah yang
menuntun pria kelahiran Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat, lima puluh empat tahun yang lalu, ini untuk kemudian jatuh cinta pada agama
Buddha.
Ir. Sutopo dikenal sebagai aktivis pluralis
antar umat beragama di Kota Medan sehingga ia kemudian terpilih sebagai Wakil Ketua I - Forum Kerukunan Umat Beragama
(FKUB) Kota Medan, dan juga saat ini terpilih sebagai Ketua Majelis Buddhayana
Indonesia (MBI) Kota Medan Periode 2014 s/d 2017. Ia hidup bahagia bersama
keluarganya. Puteri sulungnya, yang berprofesi sebagai instruktur balet
bermukim di Singapura, sedangkan putera keduanya juga telah berkarir di negeri
sakura, Jepang. Saat ini, bersama isteri tercinta – yang juga aktivis Buddhis,
ia tinggal bersama puteri bungsunya yang menggeluti profesi sebagai desainer
gambar.
![]() |
| Ir. Sutopo bersama Team Siddhi Medan |
Dalam suasana karib, Ir. Sutopo
menerima dan menjawab pertanyaan dari Tim Siddhi Medan. Berikut petikan
wawancaranya.
Sebagai tokoh penggiat kehidupan pluralis di Kota Medan, bagaimana
sejauh ini pengamatan Bapak terhadap fenomena kehidupan antar umat beragama di
Kota Medan secara khusus dan Indonesia secara umum?
Secara umum, berdasarkan pengalaman
yang saya alami selama menjadi penggiat kehidupan pluralis melalui wadah Forum Kerukunan Umat Beragama
(FKUB) dimana saya menjabat sebagai
Wakil Ketua-I, kehidupan antar umat beragama di Kota
Medan sudah berjalan cukup baik. Meskipun kita hidup di tengah kemajemukan,
tetapi untuk hal toleransi antar umat beragama, tidak pernah mengalami
permasalahan yang sampai menimbulkan keresahan. Tentu saja, kita berharap
kondisi seperti ini akan tetap terpelihara.
Dalam pandangan saya, Kota Medan ini
merupakan miniatur dari kemajemukan yang terdapat di NKRI, termasuk dalam hal
keyakinan beragama. Kita mengetahui, bahwa masyarakat Kota Medan bersifat
heterogen, baik dalam hal suku, ras, golongan maupun agama. Namun dari kondisi
ini, tidak ada satu kelompok yang mendominasi. Semuanya saling menghormati,
bertoleransi dan menghargai perbedaan yang ada.
Dalam catatan saya, sebagai pengurus
FKUB, Kota Medan telah berulangkali memperoleh penghargaan atas prestasinya
sebagai kota yang menjunjung tinggi semangat bertoleransi. Bahkan FKUB dari
sejumlah kota dan provinsi lain telah pula sering melakukan semacam studi
banding ke kota Medan, untuk melihat dan bertukar pikiran tentang kehidupan
nyata akan praktik toleransi di Kota Medan. Kita patut bangga namun tetap
waspada. Karena dalam pandangan saya, kerukunan merupakan kondisi yang dinamis.
Jika kita lalai merawatnya, ibarat asset, maka ia akan aus dan menimbulkan
masalah. Untuk itu, jangan pernah bosan untuk terus menggaungkan pentingnya
praktik hidup bertoleransi dalam kehidupan yang penuh kemajemukan. Dan ini juga merupakan salah satu tugas kita,
sebagai umat Buddha.
Nah, berbicara tentang umat Buddha, menurut Bapak, apa yang menjadi
kendala utama untuk saat ini?
Pertama, mungkin saya tidak berusaha
melihat kendala, tetapi saya berusaha melihat perkembangan yang telah ada
selama ini. Secara umum, umat Buddha Kota Medan sudah makin kreatif, khususnya
dalam hal mengekspresikan dirinya sebagai seorang Buddhis. Kita juga melihat
seminar-seminar bertemakan Buddhis telah marak. Organisasi-organisasi
bercirikan Buddhis juga bermunculan di mana-mana. Praktik penghayatan ajaran
Buddha juga makin ramai. Semuanya membanggakan.
Namun dibalik kemajuan tersebut,
tetap ada hal-hal yang perlu dibenahi dan menuntut perhatian dari kita. Salah
satunya adalah kita masih kekurangan sumber daya manusia untuk pelayanan dalam
bidang bimbingan Dharma kepada para umat awam. Kita tahu, jumlah anggota sangha
kita sangat terbatas. Para pandita yang seharusnya dapat membantu para bhikkhu
sangha juga sama, jumlahnya masih belum memadai. Sekarang kita punya Duta Dharma yang bertugas
memberi pelayanan Dharma, tapi anda juga tahu, tak semua orang bisa menjadi
Duta Dharma. Artinya, kita punya masalah dalam hal sumber daya manusia.
Baru-baru ini, salah satu wihara-Dharma
Cakra Buddhist Centre, menyelenggarakan kegiatan pelatihan Dharma Duta. Sudah dua tahun
berturut-turut kegiatan yang sama dilakukan. Saya sangat mengapresiasi
inisiatif ini. Dengan cara-cara demikianlah solusi atas minimnya sumber daya
manusia sebagai perpanjangan tangan bhikkhu sangha mulai dilakukan. Kita
harapkan dari kegiatan ini akan muncul Dharma Duta-Dharma Duta baru yang bisa
berkomitmen dalam membantu pelayanan bimbingan Dharma kepada umat sehingga umat
awam dapat lebih memahami Buddha Dharma.
Sebagai Ketua MBI Kota Medan terpilih untuk Periode 2014 s/d 2017,
apakah Bapak telah menyusun strategi khusus, yang akan dilaksanakan dalam
kepengurusan Bapak?
Untuk strategi khusus, saya pikir
tidak ada. Hanya saja, saya mencoba mem-fokuskan diri pada pembenahan internal
organisasi terlebih dahulu, terutama saya akan mencoba melakukan konsolidasi,
serta menyusun distribusi tugas per bidang. Tujuannya agar semua bidang yang
ada, dapat mandiri dalam menyusun program kerjanya masing-masing. Selain itu,
pembenahan administrasi, khususnya pendataan wihara serta hal-hal lain yang
berhubungan dengan kebutuhan umat, juga akan dititikberatkan.
Untuk fokus eksternal, saya ingin
agar MBI dapat menjalin kerjasama yang lebih erat dengan majelis-majelis lain.
Saya pengen ada semacam forum agar sesama pengurus majelis dapat sharing idea untuk melakukan hal yang
terbaik bagi perkembangan agama Buddha di Kota Medan. Saya juga telah memikirkan agar ketika
periode kepengurusan ini berakhir, kita harus menyiapkan kader agar semangat
mengembangkan agama Buddha dapat makin langgeng. Salah satu cara yang telah saya pikirkan,
adalah perlunya membekali para pengurus dengan wawasan Buddha Dharma yang non
sectarian dari para tokoh-tokoh Buddhis berwawasan Buddhayana dari pusat
(Jakarta – RED).
Sebagai sosok yang telah banyak mengikuti dan terlibat dalam berbagai
organisasi Buddhis, bisa diceritakan mengapa akhirnya bisa berlabuh di MBI?
Tentunya ini merupakan sebuah
proses. Ada beberapa alasan yang membuat saya melabuhkan diri di MBI. Salah
satunya, MBI merupakan organisasi yang bukan wadah menampung satu aliran
tertentu dari agama Buddha. Sebaliknya, MBI justru wadah dari aliran-aliran
(scholastic) dari ajaran Buddha itu sendiri, yaitu Theravada, Mahayana, serta
Vajrayana. Ibaratnya MBI itu adalah rumah dari ketiga aliran ini. Ketiga aliran
tersebut dipelihara dan dijaga, untuk saling harmonis dan didukung
perkembangannya. Tidak ada yang dianggap terbaik atau juga terburuk. Semuanya
adalah satu sumber, tetapi bukan dimaksudkan sebagai pencampuradukkan satu sama
lain. Sebagaimana lirik yang terdapat dalam Mars Buddhayana, hasil gubahan
Bhikkhu Saddanyano Mahathera, ajaran Buddha itu pada prinsipnya seperti air
laut yang satu rasa. Jadi apapun, Theravada, Mahayana ataupun Vajrayana, cita
rasanya sama, yaitu Dharma Ajaran Buddha.
Selain itu MBI merupakan organisasi
yang mendukung penuh pengkondisian agama Buddha yang betul-betul bercita rasa
Indonesia. Kiblatnya mungkin seperti yang ada di Candi Borobudur, Jawa Tengah.
Inilah yang menggugah saya untuk melabuhkan diri di MBI.
Bapak punya obsesi terpendam untuk MBI?
MBI merupakan majelis agama Buddha
tertua di Indonesia. Tahun depan, MBI akan genap berusia 60 tahun. Secara usia, kita sudah cukup matang. Tetapi
dalam hal pelayanan umat, kita harus tetap membenahi diri. Ke depan, kita harus
lebih menyentuh ke akar rumput sehingga keberadaan serta manfaat MBI semakin
dirasakan. Demikian juga untuk
pengembangan organisasi. Kita perlu menata lebih baik sistem administrasi kita.
Beranjak dari pemikiran ini, saya bermimpi untuk membangun sebuah pusat
pendokumentasian yang lengkap sehingga bisa mendukung akses pelayanan kita.
Obsesi lain, adalah saya bermimpi agar umat Buddha aliran Theravada, Mahayana
dan Vajrayana dapat saling berkembang secara simultan. Intinya kita tidak ingin
mencampuradukkan, tetapi yang kita inginkan satu sama lain saling berkembang.
Sehingga masyarakat menjadi lebih baik pemahamannya terhadap pluralism yang ada
dalam internal agama Buddha itu sendiri.
Pesan-pesan apa saja yang ingin Bapak sampaikan
kepada generasi muda buddhis Indonesia, khususnya generasi muda buddhis kota
Medan?
Pesan untuk
generasi muda buddhis dari Saya adalah kita harus berbuat sesuatu yang
bermanfaat untuk orang banyak, bukan hanya untuk umat buddha saja, tapi untuk
masyarakat republik Indonesia, sehingga kehadiran kita di masyarakat yang
begitu pluralnya dapat berguna. Sekaligus menjadikan negara republik Indonesia
sejajar dengan negara-negara lain, duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.
Marilah kita bergandengan tangan untuk kemajuan negara republik Indonesia
tercinta kita ini.
(Edited: Rudiyanto Tanwijaya / Naskah asli: @SuwandiCang - 14102014)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar